Terus terang.. diantara semua barang-barang yang ada, aku paling tergila-gila sama yang namanya tas. Nabung sedikit demi sedikit, pas dah agak lumayan jumlahnya, maka yang aku lirik duluan adalah model tas...
Di notebookku, ada deretan website2 yang aku masukin ke deretan paforit, terus aku kasi shortcut bintang biar gampang buat masuk ke dalamnya.. and... guess what apa website itu? dialah website mereka yang jual-jual tas secara online.
Kalau lagi mumet dan bete.. atau lagi kesel dan bawaannya maunya marah mulu... atau kalau bosen dan bawaannya kesel, maka inilah situs yang aku liat berlama-lama buat menghilangkan rasa bosan... memandang model-model tas wanita terbaru keluargan gucci, Chanel, Bonia, LV, Hermes... ahhh... semuanya deh. Kadang, kalau pulsa di hp lagi banyak, aku ngirim sms ke penjualnya, buat nanya harga masing-masing tas yang menurutku cantik.... kalau lagi nggak niat beli, aku tawar gila-gilaan nggak pake mikir... tapi kalau cocok, uuhh, mulai deh ngerayu si mbak supaya keep itu tas karena aku harus nabung dulu dua atau tiga bulan ke depan... hahaha.. sableng emang.
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sejak notebook di rumah diganti yang baru dan semua situs paforit yang dah aku simpan shortcutnya, hilang bersamaan dengan bergantinya notebook, aku mulai agak terlupakan dengan cuci mata online ini. Sampai akhirnya... tiba-tiba banyak yang nge-add aku di facebook mereka yang jualan tas.. mulai dari tas yang kw, cuma mirip, sampai yang original.. waduh... aku sampai terkaget-kaget liat model2 yang mereka dagangin. Mirip banget sama yang asli. Tapi harganya, gila-gilaan murah. Hmm.. apa ya bedanya? Iseng, aku beli satu. Hehe... Guci Pelham yang kata mereka kw super... harganya lumayan murah banget.. yaa.. dibawah satu deh. Sekedar pengen tahu apa sih bedanya yang model kw itu.. tapi..hiks.. ternyata kualitasnya amat mengecewakan. Masa baru dua kali pake tali tasnya dah putus.. terus.. kaitan tasnya kebuka terus... wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... menyebalkan. Aku nggak mau lagi beli yang kw.. mengecewakan banget.
Nah.. lagi iseng2, aku ketemu ulasan cara membedakan tas yang palsu dan asli, yang kw dan yang super... ini dia aku copas ya... bagus loh isinya.
Sepertinya tulisan ini gw peruntukkan untuk kaum hawa deh..secara emang udah bawaannya klo perempuan itu suka shopping, mau lagi stres kek atau lagi iseng-iseng ga ada kerjaan pasti deh larinya ke shopping. Ada yang gila sepatu jadi belanja sepatu mulu, ada yang gila jam, ada yang gila tas pokonya itulah perempuan dengan segala kekurangan dan kelebihannya..hehe..
Ngomong-ngomong soal tas, kayaknya saat ini gw emang lagi gila tas..klo ke mall pasti larinya ke butik tas, ampe temen gw bilang ”lo dah ganti profesi nih jadi pemburu tas..emang dah bosen ya ma belanja sepatu…” terkadang emang kita membutuhkan sesuatu yang berbeda toh…hehe..
Awalnya sih gw ga pernah perduli ama brandednya..karena prinsip gw klo itu tas menarik dan fungsional why not gw beli..lagian dipikiran gw klo harga itu ga pernah boong..jadi klo harganya mahal pasti deh kualitasnya tinggi dan asli. Prinsip ini nancep deh di otak gw ampe baru kemaren gw kegerahan soalnya beberapa temen (yang nota bene masih awam kali ma tas-tas branded) suka nanya ini asli ga seh??..harganya emang mahal tapi asli ga seh?? Secara kayaknya banyak banget barang tiruan di indonesia…waduhh cuape dueh..
Akhirnya gw buat deh tulisan dari beberapa sumber yang khusus gw dedikasikan untuk temen gw itu..hehe..biar ga nanya-nanya lagi…
1. Harga Barang.
Jangan pernah percaya barang bermerek asli jika harganya jauh atau 30 % dibawah harga counter.
Barang seperti Tas Hermes dan Tas LV tidak pernah diskon di outlet resminya, Channel di Asia tidak pernah diskon, Prada di Asia diskon tidak pernah besar. Kalau dibilang setelah potong GST Refund, paling banyak 13-19 % di Paris, di Milan 10 % di Sing 7 %.
2. Struktur Tas
Tas- tas yang asli biasanya kokoh, sekalipun dari kanvas, parasut atau kain.
3. ZIPPER
Coba lihat dari resletingnya. Kalau barang asli resleting nya halus banget dan biasanya zippernya khas sekali karena di embos dengan logo merek itu.
Tiap season dan tiap model zippernya berbeda, misalnya chanel atau dior. Jadi kalau zippernya polos bisa diartikan palsu atau meragukan ???
4. Dustbag
Lihat dari Dustbag/ tas pembungkusnya. Kalau yang asli biasanya halus sekali bahannya dan lebar/longgar ( biasanya tas palsu dustbagnya pas-pasan dengan tasnya).
5. Pelapis dalam /base
Pelapis dalam tas biasanya kalau asli bahan atau kulit balik yang halus (LV), dan untuk Prada atau GUCCI biasanya kain pelapis didalamnya bermotif logo dan namanya( bisa berbeda tiap season ).
Kenali logo dan bentuk huruf merek per season tersebut karena yang palsu sering berbeda bentuk hurufnya.
6. Seam / Jahitan
Jahitan dalam dan luar tas biasanya berbeda antara asli dan palsu baik dari kualitas jahitan dan benang yang digunakan ( hanya yang ahli dan sering berurusan dengan barang asli yang paham betul ).
7. Serial Number
Date Code / serial code(biasanya tersembunyi) ada dibagian dalam tas dijahit diatas kain /kulit perlapisnya. Misalnya LV SP0037 artinya dibuat bulan maret tahun 2007.
Untuk LV biasanya ada di bagian bawah jahitan di dalam, tersembunyi dan butuh ketelitian untuk melihatnya ( tiap model letaknya berbeda ).
8. Handle
Ganggang Tas ( handle ), yang asli biasanya kokoh dan untuk LV biasanya bisa adjustable dengan talinya.
Sehingga panjang-pendek tas itu ketika dijinjing di pundak bisa disesuaikan selera.
9. Tulisan Made in Italy atau Made in France ???
Untuk Chanel pasti Made in Italy atau Made in France bukan Made in Paris… Kalau flapbag Chanel semua made in France…. coco cabas yang terbaru semuanya made in Italy.
10. Tag/Kartu /Sticker
Serial Code ada di tag / sticker. Dalam bentuk seperti kartu kredit ada yang berhologram ada juga yang tidak dengan huruf serial code ada yang di embos ada yang hanya diprint.
Untuk Merek-merek tertentu disertai buku kecil yang menerangkan jenis tas dan cara perawatannya( mis Chanel dan LV ).Untuk Chanel, Tagnya jika difoto tidak menimbulkan flash dihasil fotonya.
11. Protective Metal Base.
Pada tas-tas bermerek biasanya ada protective metal base di dasar tas gunanya agar kulit di dasar tas tidak mudah tergores jika diletakkan.
12. Kancing dan Rantai Metal
yang menghubungi badan tas dan ganggang tas untuk LV setiap kancing2nya bertulisan LV mengelilingi kancing tersebut. Kalau Chanel biasanya ada logo kecilnya.
Nah, masih berkaitan dengan topik ini, terkadang maksud hati ingin punya tas asli biar bisa tampil gaya, namun apadaya resource terbatas, so…jangan sedih karena ada juga tas yang mirip-mirip asli, istilahnya KW Super Grade AAA dan KW Super Grade B.
Pada dasarnya semua jenis tas KW Super Grade AAA maupun KW Super Grade B merupakan replica atau tiruan dari merk asli, dimana model dan bahannya dibuat agar menyerupai bahkan sama persis dengan yang asli. Di Luar Negeri disebut Fake, Knock Off (KO) atau Bootleg.
Ciri-ciri KW Super Grade AAA adalah :
1. Bahan terbuat dari kulit asli yang bagus sehingga kuat dan tidak mudah tergores.
2. Bagian dalam terbuat dari kain yang bagus, kuat, halus dan awet.
3. Merk pada bagian dalam terbuat dari besi.
4. Ada authetic accesories seperti dustcover,certificate card, booklet, semuanya mirip seperti merk original.
5. Model mirip sekali dengan yang asli, sehingga yang ahlipun terkadang sulit untuk membedakannya, apalagi orang yang seumur hidupnya belum pernah punya tas branded original.
6. Cover bermerk terbuat dari kain tebal.
Sedangkan untuk KW Super Grade B, kualitas bahan, jahitan dan warna tas biasanya agak sedikit berbeda dari kualitas grade AAA, terutama detail dalam tas. Semisal tas LV Neverfull Cancas, untuk detail dalam coklat bukan krem atau kuning, atau Damien Trevi yang memiliki bahan dasar di dalam tas adalah beludru halus bukan kain kanvas.
Untuk melihat perbedaan tersebut memang akan sulit jika kita tidak melihat langsung tas tersebut. Harga KW Super Grade B lebih rendah dibanding KW Super Grade AAA, walaupun bukan jaminan karena terkadang ada saja pedangang nakal yang menjual KW Super Grade B dengan harga lebih mahal dari harga KW Super Grade AAA.
Jadi memang perlu juga untuk mengetahui hal ini agar jangan sampai tertipu oleh pedagang yang nakal.
Selamat berbelanja……
dari blognya: http://tratnasari.wordpress.com/2009/05/26/tas-asli-atau-palsu/
Rabu, 13 Januari 2010
Kamis, 17 Desember 2009
Purnama di langit cerah
Cerpen by : Ade Anita
Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang, sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya. Arini namanya.
Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang sulit dilukiskan di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak ? Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak ? Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan ? Bagaimana jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya ? Bagaimana jika sebaliknya yang terjadi ? Bagaimana jika suaminya mengharuskan dia untuk berhenti dari pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah ? Bagaimana jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya merasa sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya bertahun-tahun menjadi sia-sia tak terpakai ? Bagaimana jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin rumah tangga ? Bagaimana jika datang gadis yang lebih menarik dalam perkawinannya dan gadis itu membuat suaminya beralih cinta ? Bagaimana … wah… ternyata ada beribu bagaimana dan pertanyaan lain yang membuat kegalauan di hatinya kian tidak menentu. Arini menundukkan kepalanya dan membuang napasnya agar rasa galau di hatinya ikut lenyap. Seharusnya sebuah pernikahan itu adalah peristiwa membahagiakan, tapi kenapa sekarang yang muncul adalah berjuta keraguan atas perolehan rasa bahagia itu. Ditatapnya kembali wajah rembulan. Rasa galau itu belum hilang, meski dia sangat ingin melenyapkan rasa yang sangat mengganggu itu.
---00000---
Sudah lebih dari satu jam Aditia mengamati pohon rambutan dengan teropong mininya. Arini mendekati adik semata wayangnya itu hati-hati.
“Lihat apa sih dik, dari tadi kok asyik banget.“ Perlahan dirangkulnya pundak Aditia dari belakang. Aditia menurunkan teropongnya dan menoleh menatap kakaknya.
“Lihat lebah mbak. Tuh…, lihat deh mbak. Mereka lagi boyongan mau pindah sarang.” Teropong itu kini disodorkan padanya. Arini meletakkan teropong itu di depan matanya.
“Yang mana dik ?” Aditia cepat memindahkan teropong itu kembali ke matanya sendiri, setelah mematok tempat, Aditia memberi isyarat pada Arini untuk mendekat. Di kedua lingkaran jendela teropong itu kini tampak sebuah barisan lebah-lebah yang terbang beriringan mondar-mandir keluar masuk sarang segi enam mereka yang masih tampak kokoh. Makhluk kecil itu tampak terbang mengepakkan sayapnya sementara tubuh bagian ekornya tampak condong ke bawah. Tentu lebah itu membawa serta madu yang dihasilkan tubuhnya sehingga terlihat keberatan begitu. Kepakan sayapnya tampak bergerak sangat cepat sehingga menimbulkan suara berdengung yang ramai. Asyik juga mengamati kesibukan para lebah ini. Pantas Aditia dari tadi begitu asyik di depan jendela diam tak bergeming mengamati. Arini meletakkan siku kedua tangannya di bingkai jendela agar posisi mengintipnya nyaman.
“Hei… nggak Dik. Mereka nggak semuanya pindah. Ada juga yang tinggal.” “Masa sih mbak ? Darimana mbak tahu ?” Aditia memberondong Arini dengan pertanyaan sambil menarik ujung kemeja Arini.
“Itu.. lihat deh. “ Arini memberikan teropongnya pada Aditia sehingga kini kegiatan mengintip lewat teropong itu sudah berpindah tangan.
“Ada lebah yang keluar saja, dan tidak masuk lagi, mereka terus masuk dalam kelompok lebah yang terbang menjauhi sarang menuju pohon lain, tapi ada juga lebah yang keluar dari sarang, terbang berputar memutari pohon untuk kemudian masuk lagi. Itu artinya mereka tidak ikut pindah, tapi mereka sedang bertugas untuk menjaga sarang dan mengawasi agar lebah yang pindah tidak merusak sarang yang mereka tinggalkan. Prajurit lebah namanya.” Aditia menjauhkan teropong dari depan matanya mendengar keterangan Arini dan menatap Arini dengan wajah keheranan.
“Prajurit lebah? Itu cerita khayalan mbak Arin atau kenyataan nih? Memangnya kerajaan apa, ada prajuritnya segala?” Arini bengong sejenak, tapi langsung nyengir kuda setelah melihat alis mata Aditia yang bertaut kebingungan. Diacaknya rambut Aditia dengan sebelah tangannya.
“Yeeee…, beneran dong. Masa khayalan. Hehehe….”
“Nih…, gini Dik. Dalam kehidupan lebah, hanya ada satu komando, yaitu sang ratu lebah. Ratu lebah itulah yang bertelur. Lebah lain yang ada di masyarakatnya, ada yang bertugas untuk mencari madu,. Ada yang bertugas untuk menjaga sarang dari ancaman musuh, ada juga yang bertugas untuk menjaga telur-telur dan menyimpan madu yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kerja sama dalam pembagian tugas ini yang membuat para lebah masing-masing bisa konsentrasi menghasilkan yang terbaik bagi masyarakatnya. Tapi, suatu saat, akan muncul lebah betina muda yang kualitasnya sama bagusnya dengan Ratu lebah. Karena tidak boleh ada dua Ratu, maka sang Ratu baru ini akan pindah mencari sarang baru, dan dia bisa membawa serta lebah-lebah pengikutnya untuk membuat koloni baru tersebut.” Aditia mendengarkan keterangan Arini tanpa berkedip. Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi ketika teropong di tangannya diambil oleh Arini.
“Tuh…. Mereka menuju pohon nangka di rumah pak Haji Soleh di depan sana. Itu artinya sarang baru mereka di sana insya Allah.” Tidak ada reaksi apa-apa atau komentar sedikitpun dari Aditia selain,
“Mbak… kenapa mereka nggak berbagi tempat saja yah ? Membangun dari awal kan sulit, banyak resikonya. Padahal mereka di tempat yang lama sudah kenal dengan segala macam situasi, namanya juga lahir dan besar di sana. Kalau di tempat baru kan, masih asing. Belum bikin sarangnya yang buang waktu, belum nyari tempat buat nyari makanan, belum harus merhatiin takut kalau-kalau di tempat baru ternnyata nggak cocok dan nggak senyaman di tempat lama.” Aditia bertanya setengah bergumam.
Arini tidak langsung memberikan jawaban. Ditatapnya adik semata wayangnya itu dengan rasa sayang. Perbedaan usia di antara mereka cukup jauh. Arini masih duduk di SMP dan sudah merasa bahwa dia akan menjadi anak tunggal selamanya ketika ibu tirinya datang memberi tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan mendapatkan adik baru. Ibu kandung Arini memang sudah meninggal sejak Arini berusia sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi empat tahun kemudian. Ibu barunya itulah yang memberinya adik baru bernama Aditia. Kebahagiaan mendapatkan adik baru itu, meski dari ibu yang lain, telah terwujud dalam perasaan sayang yang terasa tidak pernah mengering dari hari ke hari. Mungkin karena perbedaan usia yang jauh sehingga Arini sudah cukup mengerti bagaimana caranya menerima kehadiran adik baru.
“Mbak… ! Kok bengong sih ditanyain ?” Aditia mengguncang lengan Arini.
“Hmm, segala sesuatu itu sudah ditentukan jalannya oleh Allah dik.“
“Maksudnya mbak ?”
“Begini…,” Arini meneguk air liurnya sejenak, sekedar untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.
“Segala sesuatu di muka bumi ini dalam penciptaannya sudah diperhitungkan oleh Allah dalam sebuah ketetapan. Misalnya, tikus yang suka makan padi di sawah, ditetapkan akan mati dimakan oleh ular sawah. Karenanya, tikus yang bisa berkembang biak dengan sangat cepat itu tidak meraja lela di sawah pak tani. Nanti ular yang memakan tikus itu, akan dimakan oleh burung elang, burung elang akan dimakan oleh ular yang lebih besar dan lebih berbisa lagi, ular itu akan dimakan oleh harimau…begitu seterusnya.”
“Seperti siklus daur makanan di pelajaran biologi yah ?” Aditia bertanya sambil mengulum senyum dan duduk di sisi Arini.
“Betul. Kamu sudah sampai situ yah pelajaran biologinya ?” Arini mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut kepala adiknya itu.
“Iyah. Ekosistem namanya.” Aditia memberi keterangan dengan mimik wajah serius.
“Iyah, betul ekosistem namanya. Yah…, begitu deh dik. Al Quran sebenarnya sudah memberi pengajaran tentang pelajaran ekosistem itu terlebih dahulu jauh sebelum para ilmuwan biologi mengemukakan teori ekosistemnya. Semuanya disebut sebagai ketetapan dari Allah bagi manusia dan bumi tempat tinggalnya. Allah itu sudah memperhitungkan atas segala sesuatu yagn diciptakanNya, dan perhitungan Allah itu sudah meliputi mulai hal yang rumit sampai hal paling sepele. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanNya. Kita meyakininya sebagai takdir yang sudah ditetapkan atas segala sesuatunya. Jadi tiap-tiap makhluk itu sudah ditentukan bahwa dia akan berjalan menggunakan kakinya misalnya, atau si A terlahir sebagai wanita sedangkan B sebagai pria, atau gajah akan mengibaskan telinga lebarnya agar tubuh besarnya tetap dalam keadaan seimbang dan kulit tebalnya tidak menimbulkan rasa penat kepanasan. Lembu yang sulit mengusir kutu-kutu di tubuhnya akan dibantu oleh burung yang akan memakan kutu-kutu itu. Itulah takdir, ketetapan Allah atas segala sesuatunya. Setiap kelemahan yang ada pada setiap makhluk ciptaan Allah selalu diiringi dengan kelebihan tersendiri dan itulah yang menjadi perlindungan bagi makhluk itu.”
Arini berhenti bicara dan mendapati Aditia sedang menatapnya tanpa berkedip dengan mulut menganga. Adiknya itu tampak mempertautkan kedua alisnya dan keningnya pun tampak berkerut-kerut. Wah, pasti tadi Arini sudah terlalu bersemangat bercerita panjang lebar mengalahkan semua singa podium. Arini tersenyum sumringah, malu sendiri.
“Bingung yah Dik ?” Arini menjentikkan dagu Aditia yang turun ke bawah hingga mulut Aditia yang terbuka karena bengong tertutup. Tapi Aditia mengangguk cepat sebagai reaksi akhirnya.
“Iyah.. ribet banget sih mbak neranginnya. Puanjanggggggg kayak kereta api. ” Arini tersenyum dan mengacak-acak rambut Aditia.
“Hmm, kalau gitu…, kamu ambil Al Quran dan ensiklopedia tentang lingkungan hidup gih, mbak terangin satu-satu.”
“Hah ?” Aditia menatap Arini masih dalam sisa bengongnya.
“Ngaji ? Ihhhh…, malas ah ! Nanti juga Adit ngaji di TPA.” Aditia spontan bangkit berdiri dan berjalan mundur menjauhi Arini.
“Yee…, bukan lagi. Kita belajar eh bukan… kita buat penelitian tentang lingkungan sekitar, hmm, soal lebah juga boleh dibahas nanti, tapi dihubungkan dengan Al Quran, asyik loh… tadabur alam namanya. “ Aditia masih menatap Arini ragu-ragu. Arini hanya tersenyum dan memasang wajah serius buru-buru.
“Pokoknya beda deh ama ngaji kayak di pengajian itu, ini lebih asyik.” Tidak ada reaksi dari Aditia, yang ada adalah rasa kurang percaya yagn terlukis di wajahnya.
“Coba dulu, kamu belum tahu kan, jadi jangan curiga dulu bahwa hal ini akan membosankan.” Glek ! Arini jadi teringat sesuatu. Astaghfirullah, itulah yang terjadi pada dirinya sendiri beberapa hari belakangan ini. Rasa curiga, prasangka buruk akan ketetapan hari esok yang akan dia jalani.
Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatkan hamba hari ini.
Kehidupan setiap makhluk itu sudah diperhitungkan oleh Allah, dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pengasih. Dia tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambaNya. Jadi apapun yang terjadi di hari esok tentunya sudah ada dalam perhitunganNya. Kenapa harus ragu dan bingung ? Wahh.. kenapa bisa lupa yah ? Arini semakin mantap kini dan itu mempengaruhi semangatnya untuk menerangkan banyak hal pada adik semata wayangnya itu. Semua pertanyaan dia coba jawab dengan kalimat sederhana dan santai dan dicoba untuk dikaitkan dengan Al Quran, agar adiknya tidak lagi mempunyai prasangka bahwa mengkaji Al Quran itu adalah sesuatu yang membosankan. Untuk jatuh cinta pada Al Quran itu harus dimulai dengan mengenalnya terlebih dahulu.
“Mbak…, memangnya ada yah binatang menyusui yang bertelur ?” Aditia tidak henti-hentinya bertanya, hingga matahari condong ke arah barat, dan azan ashar terdengar di kejauhan.
Nanti malam, bulan purnama muncul lagi, dan insya Allah itu adalah bulan purnama terakhir yang bisa Arini nikmati dari bingkai jendela kamarnya sebagai seorang gadis, karena minggu depan dia akan menikah. Arini tersenyum dalam hati, keyakinannya akan perlindungan Allah kian menancap erat di dalam hati. Terserah bagaimana warna hari esok, karena yang utama itu adalah apa yang kita usahakan hari ini. Jika kita melakukannya dengan baik insya Allah hasilnya akan baik pula dan akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tujuan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah semata. Subhanallah, Maha Suci Allah.
---00000---
“Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya “(QS. 25 :2)
“Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khasanah (sumber)nya dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan kadar (ukuran) tertentu”(QS. 15 :21)
dimuat di www.kafemuslimah.com
Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang, sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya. Arini namanya.
Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang sulit dilukiskan di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak ? Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak ? Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan ? Bagaimana jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya ? Bagaimana jika sebaliknya yang terjadi ? Bagaimana jika suaminya mengharuskan dia untuk berhenti dari pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah ? Bagaimana jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya merasa sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya bertahun-tahun menjadi sia-sia tak terpakai ? Bagaimana jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin rumah tangga ? Bagaimana jika datang gadis yang lebih menarik dalam perkawinannya dan gadis itu membuat suaminya beralih cinta ? Bagaimana … wah… ternyata ada beribu bagaimana dan pertanyaan lain yang membuat kegalauan di hatinya kian tidak menentu. Arini menundukkan kepalanya dan membuang napasnya agar rasa galau di hatinya ikut lenyap. Seharusnya sebuah pernikahan itu adalah peristiwa membahagiakan, tapi kenapa sekarang yang muncul adalah berjuta keraguan atas perolehan rasa bahagia itu. Ditatapnya kembali wajah rembulan. Rasa galau itu belum hilang, meski dia sangat ingin melenyapkan rasa yang sangat mengganggu itu.
---00000---
Sudah lebih dari satu jam Aditia mengamati pohon rambutan dengan teropong mininya. Arini mendekati adik semata wayangnya itu hati-hati.
“Lihat apa sih dik, dari tadi kok asyik banget.“ Perlahan dirangkulnya pundak Aditia dari belakang. Aditia menurunkan teropongnya dan menoleh menatap kakaknya.
“Lihat lebah mbak. Tuh…, lihat deh mbak. Mereka lagi boyongan mau pindah sarang.” Teropong itu kini disodorkan padanya. Arini meletakkan teropong itu di depan matanya.
“Yang mana dik ?” Aditia cepat memindahkan teropong itu kembali ke matanya sendiri, setelah mematok tempat, Aditia memberi isyarat pada Arini untuk mendekat. Di kedua lingkaran jendela teropong itu kini tampak sebuah barisan lebah-lebah yang terbang beriringan mondar-mandir keluar masuk sarang segi enam mereka yang masih tampak kokoh. Makhluk kecil itu tampak terbang mengepakkan sayapnya sementara tubuh bagian ekornya tampak condong ke bawah. Tentu lebah itu membawa serta madu yang dihasilkan tubuhnya sehingga terlihat keberatan begitu. Kepakan sayapnya tampak bergerak sangat cepat sehingga menimbulkan suara berdengung yang ramai. Asyik juga mengamati kesibukan para lebah ini. Pantas Aditia dari tadi begitu asyik di depan jendela diam tak bergeming mengamati. Arini meletakkan siku kedua tangannya di bingkai jendela agar posisi mengintipnya nyaman.
“Hei… nggak Dik. Mereka nggak semuanya pindah. Ada juga yang tinggal.” “Masa sih mbak ? Darimana mbak tahu ?” Aditia memberondong Arini dengan pertanyaan sambil menarik ujung kemeja Arini.
“Itu.. lihat deh. “ Arini memberikan teropongnya pada Aditia sehingga kini kegiatan mengintip lewat teropong itu sudah berpindah tangan.
“Ada lebah yang keluar saja, dan tidak masuk lagi, mereka terus masuk dalam kelompok lebah yang terbang menjauhi sarang menuju pohon lain, tapi ada juga lebah yang keluar dari sarang, terbang berputar memutari pohon untuk kemudian masuk lagi. Itu artinya mereka tidak ikut pindah, tapi mereka sedang bertugas untuk menjaga sarang dan mengawasi agar lebah yang pindah tidak merusak sarang yang mereka tinggalkan. Prajurit lebah namanya.” Aditia menjauhkan teropong dari depan matanya mendengar keterangan Arini dan menatap Arini dengan wajah keheranan.
“Prajurit lebah? Itu cerita khayalan mbak Arin atau kenyataan nih? Memangnya kerajaan apa, ada prajuritnya segala?” Arini bengong sejenak, tapi langsung nyengir kuda setelah melihat alis mata Aditia yang bertaut kebingungan. Diacaknya rambut Aditia dengan sebelah tangannya.
“Yeeee…, beneran dong. Masa khayalan. Hehehe….”
“Nih…, gini Dik. Dalam kehidupan lebah, hanya ada satu komando, yaitu sang ratu lebah. Ratu lebah itulah yang bertelur. Lebah lain yang ada di masyarakatnya, ada yang bertugas untuk mencari madu,. Ada yang bertugas untuk menjaga sarang dari ancaman musuh, ada juga yang bertugas untuk menjaga telur-telur dan menyimpan madu yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kerja sama dalam pembagian tugas ini yang membuat para lebah masing-masing bisa konsentrasi menghasilkan yang terbaik bagi masyarakatnya. Tapi, suatu saat, akan muncul lebah betina muda yang kualitasnya sama bagusnya dengan Ratu lebah. Karena tidak boleh ada dua Ratu, maka sang Ratu baru ini akan pindah mencari sarang baru, dan dia bisa membawa serta lebah-lebah pengikutnya untuk membuat koloni baru tersebut.” Aditia mendengarkan keterangan Arini tanpa berkedip. Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi ketika teropong di tangannya diambil oleh Arini.
“Tuh…. Mereka menuju pohon nangka di rumah pak Haji Soleh di depan sana. Itu artinya sarang baru mereka di sana insya Allah.” Tidak ada reaksi apa-apa atau komentar sedikitpun dari Aditia selain,
“Mbak… kenapa mereka nggak berbagi tempat saja yah ? Membangun dari awal kan sulit, banyak resikonya. Padahal mereka di tempat yang lama sudah kenal dengan segala macam situasi, namanya juga lahir dan besar di sana. Kalau di tempat baru kan, masih asing. Belum bikin sarangnya yang buang waktu, belum nyari tempat buat nyari makanan, belum harus merhatiin takut kalau-kalau di tempat baru ternnyata nggak cocok dan nggak senyaman di tempat lama.” Aditia bertanya setengah bergumam.
Arini tidak langsung memberikan jawaban. Ditatapnya adik semata wayangnya itu dengan rasa sayang. Perbedaan usia di antara mereka cukup jauh. Arini masih duduk di SMP dan sudah merasa bahwa dia akan menjadi anak tunggal selamanya ketika ibu tirinya datang memberi tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan mendapatkan adik baru. Ibu kandung Arini memang sudah meninggal sejak Arini berusia sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi empat tahun kemudian. Ibu barunya itulah yang memberinya adik baru bernama Aditia. Kebahagiaan mendapatkan adik baru itu, meski dari ibu yang lain, telah terwujud dalam perasaan sayang yang terasa tidak pernah mengering dari hari ke hari. Mungkin karena perbedaan usia yang jauh sehingga Arini sudah cukup mengerti bagaimana caranya menerima kehadiran adik baru.
“Mbak… ! Kok bengong sih ditanyain ?” Aditia mengguncang lengan Arini.
“Hmm, segala sesuatu itu sudah ditentukan jalannya oleh Allah dik.“
“Maksudnya mbak ?”
“Begini…,” Arini meneguk air liurnya sejenak, sekedar untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.
“Segala sesuatu di muka bumi ini dalam penciptaannya sudah diperhitungkan oleh Allah dalam sebuah ketetapan. Misalnya, tikus yang suka makan padi di sawah, ditetapkan akan mati dimakan oleh ular sawah. Karenanya, tikus yang bisa berkembang biak dengan sangat cepat itu tidak meraja lela di sawah pak tani. Nanti ular yang memakan tikus itu, akan dimakan oleh burung elang, burung elang akan dimakan oleh ular yang lebih besar dan lebih berbisa lagi, ular itu akan dimakan oleh harimau…begitu seterusnya.”
“Seperti siklus daur makanan di pelajaran biologi yah ?” Aditia bertanya sambil mengulum senyum dan duduk di sisi Arini.
“Betul. Kamu sudah sampai situ yah pelajaran biologinya ?” Arini mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut kepala adiknya itu.
“Iyah. Ekosistem namanya.” Aditia memberi keterangan dengan mimik wajah serius.
“Iyah, betul ekosistem namanya. Yah…, begitu deh dik. Al Quran sebenarnya sudah memberi pengajaran tentang pelajaran ekosistem itu terlebih dahulu jauh sebelum para ilmuwan biologi mengemukakan teori ekosistemnya. Semuanya disebut sebagai ketetapan dari Allah bagi manusia dan bumi tempat tinggalnya. Allah itu sudah memperhitungkan atas segala sesuatu yagn diciptakanNya, dan perhitungan Allah itu sudah meliputi mulai hal yang rumit sampai hal paling sepele. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanNya. Kita meyakininya sebagai takdir yang sudah ditetapkan atas segala sesuatunya. Jadi tiap-tiap makhluk itu sudah ditentukan bahwa dia akan berjalan menggunakan kakinya misalnya, atau si A terlahir sebagai wanita sedangkan B sebagai pria, atau gajah akan mengibaskan telinga lebarnya agar tubuh besarnya tetap dalam keadaan seimbang dan kulit tebalnya tidak menimbulkan rasa penat kepanasan. Lembu yang sulit mengusir kutu-kutu di tubuhnya akan dibantu oleh burung yang akan memakan kutu-kutu itu. Itulah takdir, ketetapan Allah atas segala sesuatunya. Setiap kelemahan yang ada pada setiap makhluk ciptaan Allah selalu diiringi dengan kelebihan tersendiri dan itulah yang menjadi perlindungan bagi makhluk itu.”
Arini berhenti bicara dan mendapati Aditia sedang menatapnya tanpa berkedip dengan mulut menganga. Adiknya itu tampak mempertautkan kedua alisnya dan keningnya pun tampak berkerut-kerut. Wah, pasti tadi Arini sudah terlalu bersemangat bercerita panjang lebar mengalahkan semua singa podium. Arini tersenyum sumringah, malu sendiri.
“Bingung yah Dik ?” Arini menjentikkan dagu Aditia yang turun ke bawah hingga mulut Aditia yang terbuka karena bengong tertutup. Tapi Aditia mengangguk cepat sebagai reaksi akhirnya.
“Iyah.. ribet banget sih mbak neranginnya. Puanjanggggggg kayak kereta api. ” Arini tersenyum dan mengacak-acak rambut Aditia.
“Hmm, kalau gitu…, kamu ambil Al Quran dan ensiklopedia tentang lingkungan hidup gih, mbak terangin satu-satu.”
“Hah ?” Aditia menatap Arini masih dalam sisa bengongnya.
“Ngaji ? Ihhhh…, malas ah ! Nanti juga Adit ngaji di TPA.” Aditia spontan bangkit berdiri dan berjalan mundur menjauhi Arini.
“Yee…, bukan lagi. Kita belajar eh bukan… kita buat penelitian tentang lingkungan sekitar, hmm, soal lebah juga boleh dibahas nanti, tapi dihubungkan dengan Al Quran, asyik loh… tadabur alam namanya. “ Aditia masih menatap Arini ragu-ragu. Arini hanya tersenyum dan memasang wajah serius buru-buru.
“Pokoknya beda deh ama ngaji kayak di pengajian itu, ini lebih asyik.” Tidak ada reaksi dari Aditia, yang ada adalah rasa kurang percaya yagn terlukis di wajahnya.
“Coba dulu, kamu belum tahu kan, jadi jangan curiga dulu bahwa hal ini akan membosankan.” Glek ! Arini jadi teringat sesuatu. Astaghfirullah, itulah yang terjadi pada dirinya sendiri beberapa hari belakangan ini. Rasa curiga, prasangka buruk akan ketetapan hari esok yang akan dia jalani.
Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatkan hamba hari ini.
Kehidupan setiap makhluk itu sudah diperhitungkan oleh Allah, dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pengasih. Dia tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambaNya. Jadi apapun yang terjadi di hari esok tentunya sudah ada dalam perhitunganNya. Kenapa harus ragu dan bingung ? Wahh.. kenapa bisa lupa yah ? Arini semakin mantap kini dan itu mempengaruhi semangatnya untuk menerangkan banyak hal pada adik semata wayangnya itu. Semua pertanyaan dia coba jawab dengan kalimat sederhana dan santai dan dicoba untuk dikaitkan dengan Al Quran, agar adiknya tidak lagi mempunyai prasangka bahwa mengkaji Al Quran itu adalah sesuatu yang membosankan. Untuk jatuh cinta pada Al Quran itu harus dimulai dengan mengenalnya terlebih dahulu.
“Mbak…, memangnya ada yah binatang menyusui yang bertelur ?” Aditia tidak henti-hentinya bertanya, hingga matahari condong ke arah barat, dan azan ashar terdengar di kejauhan.
Nanti malam, bulan purnama muncul lagi, dan insya Allah itu adalah bulan purnama terakhir yang bisa Arini nikmati dari bingkai jendela kamarnya sebagai seorang gadis, karena minggu depan dia akan menikah. Arini tersenyum dalam hati, keyakinannya akan perlindungan Allah kian menancap erat di dalam hati. Terserah bagaimana warna hari esok, karena yang utama itu adalah apa yang kita usahakan hari ini. Jika kita melakukannya dengan baik insya Allah hasilnya akan baik pula dan akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tujuan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah semata. Subhanallah, Maha Suci Allah.
---00000---
“Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya “(QS. 25 :2)
“Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khasanah (sumber)nya dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan kadar (ukuran) tertentu”(QS. 15 :21)
dimuat di www.kafemuslimah.com
Rabu, 16 Desember 2009
Pada sebuah Kepastian dan sebuah Ketidak Pastian
Sebutkah satu saja hal yang paling pasti datangnya.
Jawabnya bukan cinta. Apatah lagi nasib baik atau peruntungan.
Saya kenal seseorang yang selalu mengedepankan logika dalam segala sesuatu yang dia kerjakan. Segala sesuatunya selalu disertai alasan yang masuk akal. Bahwa setelah siang pasti ada malam. Bahwa dahaga akan hilang segera setelah kita minum. Dan lapar akan sirna segera setelah kita makan. Bahwa satu ditambah satu pasti dua. Dan dua dikali dua pasti empat.
Bahwa kedudukan pasti akan datang pada mereka yang mau berusaha keras mengejarnya. Bahwa penyakit akan pergi menyingkir ketika kita giat mencegahnya dengan berbagai kiat sehat.
Suatu hari, ketika kakinya yang kuat dan perkasa itu sedang berjalan di atas titian yang beraspal halus tanpa lubang atau undakan, dia terjatuh bersimpuh. Kakinya sakit jika ditegakkan. Setelah dibawa ke dokter, ternyata dia terkena osteoporosis. Begitu pernyataan dokter setelah dia melalui serangkaian pemeriksaan yang seksama.
Tiba-tiba, seribu tanda tanya muncul di atas kepalanya. Ujung tajam jarum yang berkilat memecahkan gelembung tanda tanya itu satu persatu tapi tanda tanya itu tidak jua berkurang jumlahnya. Menyiramkan cairan bingung di wajah teman saya itu seketika. Terguyur oleh rasa tidak percaya atas kenyataan yang baru saja didengarnya.
Bagaimana tidak? Teman saya itu seorang instruktur senam aerobic. Berbagai macam gaya aerobic telah dia pelajari dan akhirnya dia sebarkan lewat pengajaran senam di studio senamnya yang mapan. Pola hidup sehat adalah sesuatu yang harus senantiasa dikunyahnya setiap hari. Tapi mengapa hantu osteoporosis malah datang menguntitnya?
“Ternyata, apa yang pasti itu tidak pasti ya De di dunia ini. Selalu datang sebuah kenyataan baru yang justru membalik kenyataan yang telah kita yakini selama ini. Kadang, penyebabnya tidak diketahui pasti. Tapi, aku merasa, dia datang khusus untuk menegurku bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya, termasuk pada sesuatu yang sudah amat pasti menurut logika manusia.”
Aku tersenyum. Entah mau member komentar apa. Membiarkan kenyataan ini mengendap begitu saja menjadi seperti semen yang terus bertahan menempel di dinding bata. Mungkin hingga terik matahari membuatnya amat kering lalu mengelupasnya satu persatu. Cecerannya jatuh ke atas lantai. Angin menerbangkannya hilir mudik tak tentu arah hingga menghilang. Hingga kejadian ini terlupa begitu saja.
Hingga aku bertemu dengan seorang teman lama. Hingga aku terperangah melihat keberadaannya sekarang.
Dahulu, temanku ini bisa dikatakan anak yang nakal. Sekolah harus dipaksa dahulu oleh orang tuanya. Bisa jadi, jika ibunya tidak pernah punya persediaan air mata untuk membujuk, mungkin dia tidak akan pernah duduk di bangku sekolah. Atau jika ayahnya tidak pernah memakai sabuk pinggang yang gampang dilepaskan dari lilitan di lingkar pinggang celana panjangnya, temanku ini tidak pernah mau belajar.
Terus terang. Dahulu aku hampir pasti menduga bahwa dia akan menjadi seorang sampah masyarakat ketika sudah dewasa nanti. Kebisaannya hanyalah memaksa orang untuk mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan ke pundaknya. Sementara dia berjalan dengan ringan membawa hasil pekerjaan yang tidak pernah dia kerjakan, temannya mengiriminya seribu kutukan dan sumpah serapah. Tak jarang kehadirannya merupakan hal pertama yang paling tidak diinginkan oleh teman-temannya. Bagaimana tidak jika sehari-hari pekerjaannya hanyalah mabuk, memaki dan menggoda anak perempuan yang lewat di depannya dengan menarik rok mereka ke atas. Gara-gara dia, setiap kali lewat tempat dia nongkrong dengan teman-teman gangnya yang brutal-brutal, saya selalu berusaha menonggoskan gigi seri atas saya. Lalu menjerengkan kedua bola mata saya. Terkadang, jika sedang kena flu, saya biarkan ingus saya menggelantung di atas bibir saya. Biar saja si hijau itu jadi hiasan pengganti kumis. Ya. Itu harus. Karena gadis dengan wajah yang menjijikkan tidak akan digodanya. Saya selalu ingin menjadi gadis dengan wajah yang menggelikan, gadis yang amat sangat buruk rupa, gadis yang tidak punya nilai kecantikannya sama sekali jika lewat di depan hidungnya.
Dialah calon sampah masyarakat. Persangkaan itu yang ada didalam kepala saya. Bibit-bibit ke arah itu sudah amat kentara menunggu disemai. Pasti buahnya busuk dan bunganya memuakkan.
Tapi persangkaanku itu runtuh seketika ketika akhirnya aku bertemu denganya tanpa sengaja tiga puluh tahun kemudian. Di sebuah mushalla kecil di tepi kampung. Tubuhnya tetap kurus dan kerlingan matanya tetap sama seperti dulu. Hanya saja, kerlingan mata itu hanya sekejap menatap, tidak ada lagi kerlingan nakal. Yang ada adalah kesantunan dan kesopanan dengan cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain selain diri saya. Dia sekarang juga tidak lagi memiliki seringai yang menyeramkan seperti dulu. Yang membuat saya sangat ingin memiliki ilmu menghilangkan diri dalam seketika. Wajahnya amat teduh dan perilakunya amat santun.
“Saya mengajar ngaji disini. Setiap siang hingga menjelang malam, selalu ada saja yang meminta untuk dituntun membaca Al Quran. HIdup hanya sebentar, saya tidak mau mendapat rugi yang terlalu lama. Sambil menunggu kematian yang pasti akan datang.”
Takjub. Subhanallah. Lalu saya tiba-tiba ingat kenangan yang tersapu angin yang nakal. Tentang sebuah kepastian yang belum tentu pasti. “…bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya, termasuk pada sesuatu yang sudah amat pasti menurut logika manusia.”
----------------
Penulis: Ade Anita. menjelang 1 muharram 1431 H
Jawabnya bukan cinta. Apatah lagi nasib baik atau peruntungan.
Saya kenal seseorang yang selalu mengedepankan logika dalam segala sesuatu yang dia kerjakan. Segala sesuatunya selalu disertai alasan yang masuk akal. Bahwa setelah siang pasti ada malam. Bahwa dahaga akan hilang segera setelah kita minum. Dan lapar akan sirna segera setelah kita makan. Bahwa satu ditambah satu pasti dua. Dan dua dikali dua pasti empat.
Bahwa kedudukan pasti akan datang pada mereka yang mau berusaha keras mengejarnya. Bahwa penyakit akan pergi menyingkir ketika kita giat mencegahnya dengan berbagai kiat sehat.
Suatu hari, ketika kakinya yang kuat dan perkasa itu sedang berjalan di atas titian yang beraspal halus tanpa lubang atau undakan, dia terjatuh bersimpuh. Kakinya sakit jika ditegakkan. Setelah dibawa ke dokter, ternyata dia terkena osteoporosis. Begitu pernyataan dokter setelah dia melalui serangkaian pemeriksaan yang seksama.
Tiba-tiba, seribu tanda tanya muncul di atas kepalanya. Ujung tajam jarum yang berkilat memecahkan gelembung tanda tanya itu satu persatu tapi tanda tanya itu tidak jua berkurang jumlahnya. Menyiramkan cairan bingung di wajah teman saya itu seketika. Terguyur oleh rasa tidak percaya atas kenyataan yang baru saja didengarnya.
Bagaimana tidak? Teman saya itu seorang instruktur senam aerobic. Berbagai macam gaya aerobic telah dia pelajari dan akhirnya dia sebarkan lewat pengajaran senam di studio senamnya yang mapan. Pola hidup sehat adalah sesuatu yang harus senantiasa dikunyahnya setiap hari. Tapi mengapa hantu osteoporosis malah datang menguntitnya?
“Ternyata, apa yang pasti itu tidak pasti ya De di dunia ini. Selalu datang sebuah kenyataan baru yang justru membalik kenyataan yang telah kita yakini selama ini. Kadang, penyebabnya tidak diketahui pasti. Tapi, aku merasa, dia datang khusus untuk menegurku bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya, termasuk pada sesuatu yang sudah amat pasti menurut logika manusia.”
Aku tersenyum. Entah mau member komentar apa. Membiarkan kenyataan ini mengendap begitu saja menjadi seperti semen yang terus bertahan menempel di dinding bata. Mungkin hingga terik matahari membuatnya amat kering lalu mengelupasnya satu persatu. Cecerannya jatuh ke atas lantai. Angin menerbangkannya hilir mudik tak tentu arah hingga menghilang. Hingga kejadian ini terlupa begitu saja.
Hingga aku bertemu dengan seorang teman lama. Hingga aku terperangah melihat keberadaannya sekarang.
Dahulu, temanku ini bisa dikatakan anak yang nakal. Sekolah harus dipaksa dahulu oleh orang tuanya. Bisa jadi, jika ibunya tidak pernah punya persediaan air mata untuk membujuk, mungkin dia tidak akan pernah duduk di bangku sekolah. Atau jika ayahnya tidak pernah memakai sabuk pinggang yang gampang dilepaskan dari lilitan di lingkar pinggang celana panjangnya, temanku ini tidak pernah mau belajar.
Terus terang. Dahulu aku hampir pasti menduga bahwa dia akan menjadi seorang sampah masyarakat ketika sudah dewasa nanti. Kebisaannya hanyalah memaksa orang untuk mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan ke pundaknya. Sementara dia berjalan dengan ringan membawa hasil pekerjaan yang tidak pernah dia kerjakan, temannya mengiriminya seribu kutukan dan sumpah serapah. Tak jarang kehadirannya merupakan hal pertama yang paling tidak diinginkan oleh teman-temannya. Bagaimana tidak jika sehari-hari pekerjaannya hanyalah mabuk, memaki dan menggoda anak perempuan yang lewat di depannya dengan menarik rok mereka ke atas. Gara-gara dia, setiap kali lewat tempat dia nongkrong dengan teman-teman gangnya yang brutal-brutal, saya selalu berusaha menonggoskan gigi seri atas saya. Lalu menjerengkan kedua bola mata saya. Terkadang, jika sedang kena flu, saya biarkan ingus saya menggelantung di atas bibir saya. Biar saja si hijau itu jadi hiasan pengganti kumis. Ya. Itu harus. Karena gadis dengan wajah yang menjijikkan tidak akan digodanya. Saya selalu ingin menjadi gadis dengan wajah yang menggelikan, gadis yang amat sangat buruk rupa, gadis yang tidak punya nilai kecantikannya sama sekali jika lewat di depan hidungnya.
Dialah calon sampah masyarakat. Persangkaan itu yang ada didalam kepala saya. Bibit-bibit ke arah itu sudah amat kentara menunggu disemai. Pasti buahnya busuk dan bunganya memuakkan.
Tapi persangkaanku itu runtuh seketika ketika akhirnya aku bertemu denganya tanpa sengaja tiga puluh tahun kemudian. Di sebuah mushalla kecil di tepi kampung. Tubuhnya tetap kurus dan kerlingan matanya tetap sama seperti dulu. Hanya saja, kerlingan mata itu hanya sekejap menatap, tidak ada lagi kerlingan nakal. Yang ada adalah kesantunan dan kesopanan dengan cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain selain diri saya. Dia sekarang juga tidak lagi memiliki seringai yang menyeramkan seperti dulu. Yang membuat saya sangat ingin memiliki ilmu menghilangkan diri dalam seketika. Wajahnya amat teduh dan perilakunya amat santun.
“Saya mengajar ngaji disini. Setiap siang hingga menjelang malam, selalu ada saja yang meminta untuk dituntun membaca Al Quran. HIdup hanya sebentar, saya tidak mau mendapat rugi yang terlalu lama. Sambil menunggu kematian yang pasti akan datang.”
Takjub. Subhanallah. Lalu saya tiba-tiba ingat kenangan yang tersapu angin yang nakal. Tentang sebuah kepastian yang belum tentu pasti. “…bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya, termasuk pada sesuatu yang sudah amat pasti menurut logika manusia.”
----------------
Penulis: Ade Anita. menjelang 1 muharram 1431 H
Langgan:
Entri (Atom)
